Jamaah “pentium satu” di Masjid Barru

Indra Sastrawat

Indra Sastrawat

jurnalbarru>>Untuk pertama kalinya sejak selesai kuliah, saya berlebaran bukan di Makassar dan dikampung saya di Palopo. Lebaran haji pertama saya lakoni di sebuah kota kecil yang tenang bernama Barru. Benar-benar kecil kota ini sampai-sampai masjid Agungnya tergolong sederhana jika membandingkan dengan kabupaten tetangganya. Di kabupaten tetangga Masjid Agungnya sangat mewah, bahkan terlewat mewah untuk daerah yang masih dipenuhi dengan kemiskinan.

Syahdu takbir berkumandang di saentero kota kecil ini, perlahan mentari memberikan berkahnya pertanda geliat kehidupan dimulai, dan mentari kali tanpa ditemani kawan karibnya si Hujan yang beberapa hari terakhir setia menemani. Udara pagi sangat segar, jauh lebih segar dari udara kota Makassar yang penuh polutan.

Jam 06.15 saya tiba di Masjid Agung Barru, suasananya sangat ramai, dengan mata seperti elang para jemaah yang datang terlambat menatap dengan tajam ke dalam masjid berharap ada ruang yang kosong untuk sekedar meringankan tubuh atau menghindari terik panas. Yang muda mudi ini saat-saat mengamati dari kejauhan pujaan hati dengan balutan pakaian suci, yang konon katanya dengan pakaian ini kecantikan atau ketampanan bisa naik 2x lipat.

Masuk pukul 07.00pagi, Keramaian terhenti sejenak ketika seorang yang nampaknya berwibawa memasuki masjid, dari wibawanya kelihatannya dia sangat berpengaruh. Satu persatu jamaah yang duduk dibaris depan mencium tangan sosok yang satu ini dan tentunya sambil sedikit membungkukan badan, seperti ingin mencari berkah dari tangan suci ini atau ini yang namanya cari muka, entahlah.

Setelah tubuh-tubuh yang dari tadi membungkukan badannya duduk kembali, kelihatan lah dengan jelas kalau sosok itu adalah sang Bupati. Entah ini skenario sang bupati datang pada kloter terakhir atau karena bupati sulit tidur hingga kesiangan,karena semalam suntuk memikirkan nasib rakyatnya. Atau lagi-lagi ini bagian dari film-film India, bahwa sang jagoan mesti datang terlambat. Pemimpin adalah suri teladan bagi rakyatnya, jangan mengharapkan rakyat bisa bergerak lebih cepat kalau pemimpinnya selalu lambat.

Protokler khas pemerintah daerahpun dimulai, dimulai dengan sang MC atau entah apa sebutannya membacakan bait demi bait susunan acara. Sang MC ini bukan orang sembarang dia adalah kepala dinas Agama, kementerian yang punya wibawa lebih karena ditangannya nasib ribuan antrian Calon haji di putuskan, saya tahu karena dia yang jadi penghulu nikah saya dulu..hehehe .

Sebelum masuk ke acara resmi sang MC membacakan sumbangan hewan kurban, Bupati dan keluarganya menyumbang 2 ekor sapi, masih kalah sama Dinas Agama yang menyumbang 4 ekor sapi, ini seperti jadi lomba pamer sumbangan. Satu persatu nama pejabat daerah disebutkan dan tidak lupa jumlah hewan kurban juga disebut.

Shalat pun di mulai dipimpin oleh seorang imam yang bacaannya sangat indah namun begitu panjang, 1 rakaat betul-betul cukup panjang. Entah ini ada kaitannya dengan hadirnya orang nomor satu di daerah ini atau sekedar berharap pahala yang besar dengan bacaan yang panjang.

Di tengah-tengah shalat seorang anak kecil sengaja membuat kegaduhan, suasananya mirip taman kanak-kanak,batin saya bertanya, siapa bapak anak ini yang alpa mendidik anaknya. Mungkin inilah yang disebut dengan istilah “Salah Asuhan” meminjam judul novel legendaris karya Abdul Muis. Dalam 15 menit, 2 rakaat Shalat idul lebaran tuntas diselesaikan, begitu selesai mata para jamaah menatap tajam ke sang bapak pemilik mandat mengasuh anak yang barusan membuat pahala puluhan jamaah menjadi berkurang. Rasa malu sang bapak hanya bisa dituntaskan dengan rasa ingin memukul sang anak kebelinger ini.

Tak terasa waktu sudah jam 07.30, wah gawat perut ku dari pagi belum terisi, bayang-bayang daging dan masakan lebaran benar-benar membuat ibadahku mulai goyah.

Seorang pengkhutbah naik ke mimbar, masih tergolong muda dari jalannya dan raut wajahnya mencerminkan intelektualitas, tidak salah kalau dibelakang namanya masih terdapat embel-embel gelar MA. Ini merupakan episode paling “menyiksa” dalam setiap shalat lebaran, pengkhutbah tidak lebih tukang uji kesabaran melawan rasa ingin cepat pulang menikmati hidangan lebaran yang lezat. Dengan bahasa bombastis, seperti radikal, monumental, gerak gerik kehidupan, sang khatib sukses membuat pendengarnya termenung dalam kebingungan.

Otak para jamaah seperti diajak berlari kencang berusaha memahami bait demi bait celoteh sang khatib. Dalam hatiku berkata “ pasti banyak puyeng nih” otak yang selama ini dipenuhi dengan drama sedih bernama cinta fitri atau termehek-mehek harus berhadapan dengan istilah aneh. Tapi bagi saya khutbah ini mampu menghilangkan delaga lapar yang menyergapku, khutbah yang luar biasa dari kota kecil. Walau secara sadar bahasanya cukup sulit dimengerti.

Akhir khutbah, khatib membacakan kesimpulan ‘disertasi ilmiahnya” dalam bahasa Bugis. Kelihatan senyum merekah dibibir para jemaah, kalau tadi otak Pentium satu tidak mampu mencerna isi celoteh khatib yang berkapasitas Pentium dual core, sekarang tabir celoteh telah terbuka. Kelihatan kepala mereka naik turun pertanda sudah paham maksud sang khatib. Sebaliknya karena bahasa Bugis saya tidak bagus, bahkan kalau mau jujur sangat amburadul, saat penutup ceramah khatib saya hanya terdiam tanpa mengerti maksud kesimpulan tadi, Skor menjadi 1-1.

Selesai khutbah, jamaah berhamburan keluar, segera pulang berjumpa sanak keluarga dan tentunya pesta lebaran daging sudah menunggu.

About these ads

Perihal BarruNews
Terima Kasih Komentarnya, Ayo Kirimkan Tulisan/ Opini Atau Kegiatan Ataukah Kabar Kejadian Di Sekitar anda Untuk Diberitakan di BarruNews. Silahkan Kirim ke email : jurnalbarru@gmail.com ATAU Join Us Di Facebook : Barru News. Jangan Lupa Sertakan Foto.

2 Responses to Jamaah “pentium satu” di Masjid Barru

  1. andi harianto mengatakan:

    tulisan ini memang sangat menarik.
    kocak, tetapi menyimpan pesan yang dalam

  2. anang nurcahyo mengatakan:

    posting menarik, semangat tuk terus berbagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: