Tragis, Kemerdekaan Berjilbab Tercederai Juga di Barru

Stop Pelarangan Jilbab

Jurnal Barru >>Jilbab kerap kali menjadi sebuah perbincangan fenomenal, baik diluar negeri. Terlebih jika itu terkait kebijakan anti penggunaan jilbab. Pastilah bakal menuai kontroversi. Hal serupa pernah terjadi beberapa unit kerja di Indonesia, baik perusahaan swasta maupun Instansi Pemerintah. Kebijakan seperti ini kerap memicu ketersinggungan umat Islam ketika ini dinilai sebuah penghinaan dan penistaan terhadap upaya penegakan Perintah allah dan Rosul. Betapa tidak, jilbab yang dimuliakan sebagai penjaga kehormatan wanita Islam sering diperhadapkan dengan dengan trend, kebebasan, bahkan dengan rasionalitas sekalipun sebagai alasan pembenaran belaka yang jauh dari ranah kebenaran bahkan kerap pula terkait dengan kepentingan.

Hal serupa kini terjadi juga di Kabupaten Barru,  di kota yang dikenal hingga pelosok nusantara bahkan dimancanegara dengan brand “kota santri”. Julukan ini melekat dengan adanya Pesantren Besar DDI-AD mangkoso, banyaknya Ulama, tumbuh kembangnya Ormas Islam dan majelis-majelis taklim serta keteguhan masyarakat beragama sejak dahulu. Rentetan panjang Kabupaten ini juga populer dengan pencitraan kondusif akibat kearifan lokalnya yang senantiasa sipakainge, sipatokkong, siaptuo, dan terutama sipakalebbi. Serangkaian kearifan lokal tersebut menjadi sumangeq dan roh dari brand Kota Santri untuk tidak saling bersinggungan.

Namun keteguhan beragama, imaging dan kearifan lokal masyarakat Barru seolah tercoreng oleh keluarnya kebijakan/ anjuran tidak berjilbab bagi Tenaga Keperawatan RSUD  Barru oleh dr. Lukman Direktur RSUD Lapatarai Barru.

Dari penelusuran Tim Jurnal Barru. Hampir seluruh tenaga keperawatan tidak ada yang bersedia membeberkan informasi mengenai hal ini. Pada umumnya bersikap diam dan bungkam demi upaya menjaga karir. Beruntung, seorang tenaga keperawatan berinisial AN mau membeberkan beberapa hal terkait kebijakan ini berdasarkan yang dialami ketika mengajukan diri sebagai Tenaga Keperwatan di Rumah Sakit tipe C itu.

“Pada saat saya mendaftar disini, saya tidak sendiri. Saya bersamaan dengan beberapa pendaftar lain. Waktu itu saya agak belakangan masuk. Pendaftar lain sudah didalam ruangan Pak direktur” Ungkap AN

Penelusuran berlanjut, pendaftar lain ditekankan untuk tidak menggunakan jilbab. “Begitu saya masuk,pak direktur mendekati saya. Didalam ruangan itu hanya saya pendaftar yang tidak berjilbab. Mereka disuruh mencontoh ke saya” Akunya.

Disaat bersamaan AN ditunjuk sebagai cerminan perawat yang Pak Direktur inginkan. “Aaaaaa yang kayak gini nih..harusnya datang ke saya (mendfatar tidak berjilbab. red). Bisa tidak, kalian-kalian juga seperti ini”. ujarnya sembari menirukan ucapan dr. Lukman.

Ironis lagi, ada beberapa tenaga keperawatan yang mengurungkan niat bekerja setelah mendapatkan anjuranyang sama ketika medaftar karena menganggap kebijakan tersebut mencederai Umat Islam. Direktur RSUD Lapatarai juga menargetkan dalam sebulan kedepan tidak ada lagi tenaga keperawatan yang menggunakan jilbab. “Targetnya bulan januari 2011, tidak ada lagi perawat yang berjilbab” beber AN sembari memohon agar identitasnya dirahasiakan.

Petikan wawancara diatas memang agak sulit menjadi sebuah bukti pelarangan jilbab, karena kebijakan  tersebut tidak pernah diumumkan secara resmi. Anjuran tidak berjilbab ini, hanya disampaikan orang per orang hingga menjadi rahasia umum di lingkungan rumah sakit  bahkan menjadi obrolan hangat di warung kopi. Namun anjuran diskriminatif ini tetap harus disuarakan.

Anjuran tidak berjilbab ini, dikeluarkan hanya dengan dalih bahwa jilbab kelihatan kurang sepadan apabila dikenakan dengan cup (Tutup kepala ala Perawat), Alasan lain adalah mengganggu efektifitas penggunaan alat ditelinga pada saat bekerja. Dilain tempat dr. Lukman sering mengungkapkan bahwa ini bukan pelarangan sekalipun beberapa sumber menuturkan bahwa kadang terjadi penolakan bagi pendaftar yang tidak bersedia membuka jilbab.

Kebijakan ini menurut AN mungkin rasional bagi direktur RS ketika ditemui pada saat dinas malam di rumah sakit tersebut. “Memang sih alasannya cukup rasional, kalau pakai jilbab bekerja kurang optimal. Tapi diluar sana banyak kok, orang berjilbab yang justru berprestasi gemilang didunia keperawatan.”simpulnya mengakhiri perbincangan.

Miris jika di daerah  masyoritas muslim berjuluk kota santri ada juga pelarangan jilbab. Semoga ALLOH memberi petunjuk kepada yg melarang & memberikan kesabaran kepada yg di dzolimi hak & kewajiban menutup auratnya.

Perihal BarruNews
Terima Kasih Komentarnya, Ayo Kirimkan Tulisan/ Opini Atau Kegiatan Ataukah Kabar Kejadian Di Sekitar anda Untuk Diberitakan di BarruNews. Silahkan Kirim ke email : jurnalbarru@gmail.com ATAU Join Us Di Facebook : Barru News. Jangan Lupa Sertakan Foto.

2 Responses to Tragis, Kemerdekaan Berjilbab Tercederai Juga di Barru

  1. sukmawati Aksa mengatakan:

    mereka yang melarang wanita muslim berjilbab akan di rajam oleh ALLAH Aza wa Jala. karena kewajibab berjilbab bagi perempuan adalah wajib. dan telah di perintahkan oleh ALLAH dalam Alquran. jadi bila ada instansi yang melarang menggunakan hijab bagi perempuan maka ia di samakan dengan umat terkutuk dan bukan golongan umat baginda RAsulullah SAW. jika ia orang islam, suruhlah ia membuka Alquran. dan lihat apa Allah perintahkan kepada kita mahluknya… dan semoga ALLAH mengampuni dosa-dosanya hingga akhir hayat… amien…

  2. Hamba Allah mengatakan:

    Astagfirullahal Adziim… Semoga Allah mengampuni segala Dosa Pak Dokter… Satu hal yang perlu diingat, bahwa kita hidup di Bumi Allah, maka kita harus patuh dan tunduk pada Aturan Allah, kita sebagai hamba Allah tidak pantas untuk membuat aturan yang melanggar aturan Allah… Istigfarlah… Bortobat… Mohon Ampunan Allah, Karena Allah Maha Pengampun… Ingat Pak Dokter… umur Anda tidak akan lama lagi… tidak takutkah Anda dijepit tanah kuburan Anda disebabkan oleh aturan yang anda buat…?? Naudzubillah min dzalik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: