Zainuddin : Dibutuhkan Pemimpin Abnormal

Penulis Adalah Peneliti Tamu di Universitas Utrecht Belanda

Zainuddin Abdullah

Zainuddin Abdullah Aliah

Jurnal Barru >> Untuk mengatasi persoalan bangsa yang semakin akut, dibutuhkan sosok pemimpin yang dapat berpikir dan bekerja tidak lagi berada pada taraf normal. Situasi sekarang adalah situasi yang tidak normal lagi, pemimpin sekarang baik di legislatif, eksekutif, maupun yudikatif, sudah tidak mampu mengatasi persoalan-persoalan yang ada Setelah menerima materi dari Hayyan ul Haq LLM PhD, seorang peneliti dan pengajar berkebangsaan Indonesia di Molengraaff Institute for Private Law Universitas Utrecht Belanda, sesama visiting researches dari Indonesia berlangsung diskusi lepas tentang persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Salah satu kesimpulan dari diskusi tersebut, Indonesia butuh pemimpin yang abnormal. Berbicara tentang Indonesia, sepertinya berbicara tentang 1001 persoalan yang tak kunjung usai. Persoalan tersebut tidak hanya menyangkut bencana fisik seperti gunung meletus, tsunami, banjir, tetapi juga juga bencana moral seperti korupsi, mafia, plagiat karya ilmiah, ijazah palsu dan berbagai persoalan lain. Bencana yang menimpa bangsa Indonesia baik yang terekam oleh media massa maupun tidak, salah satu penyebabnya adalah human error, ada kesalahan yang dibuat dalam menata negara ini. Oleh karena itu, dibutuhkan introspeksi kolektif bangsa, mulai masyarakat biasa sampai pada pimpinan level tertinggi. Bencana moral yang menimpa bangsa Indonesia, sangat akut dan kompleks yang terkadang tidak dapat dipahami secara logika sehingga sulit untuk merasionalisasikan.

Persoalan-persoalan itu silih berganti datangnya dengan modus yang sama dan sepertinya kita hanya berkutat pada persoalan-persoalan itu secara terus menerus tanpa ada penyelesaian akhir, ibaratnya kita terjerembab dalam kubangan yang kita ciptakan sendiri. Tahap Anomali Apabila dikaitkan pada teori paradigma ilmu pengetahuan dari Thomas S Kuhn, paradigma mengalami perubahan melalui beberapa tahap, yaitu: (1) Sebuah paradigma keilmuan tetap eksis dan menjadi pegangan dan dasar sebagai ukuran untuk menganalisis segala sesuatu yang berhubungan dengan umat manusia. Eksisnya paradigma ini disebabkan karena semua permasalahan yang dihadapi umat manusia dapat dijawab sehingga menjadi acuan (normal); (2) Sebuah paradigma akan selalu mengalami pergeseran, akibat adanya pergeseran zaman, maka paradigma normal akan berhadapan dengan situasi dan tuntutan baru sehingga mengalami anomali; (3) Setelah pergeseran dan mengalami benturan, maka muncul ketidakpercayaan (distrust) sehingga menimbulkan krisis; (4) Adanya krisis tersebut sebagai wujud kegagalan yang berakhir munculnya paradigama baru yang relatif dapat diterima sehingga tatanan kembali menjadi normal. Keadaan Indonesia sekarang ini berada pada tahap anomali.

Dalam konteks sosial, anomali adalah suatu keanehan atau keganjilan yang keluar dari sewajarnya dan tidak berdasarkan semestinya, contoh yang dapat dikemukakan bahwa Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Jumlah pemeluk Islam di Indonesia sekitar 216 juta jiwa atau 88 persen dari penduduk Indonesia. Juga memiliki jumlah masjid terbanyak dan negara asal jamaah haji terbesar di dunia, seiring reputasi tersebut berbanding lurus dengan reputasi buruk bangsa Indonesia. Berdasarkan hasil survey tahun 2010 dari Political & Economic Risk Consultancy (PERC) yang berbasis di Hongkong, menempatkan Indonesia sebagai negara paling korup dari 16 negara Asia Pasifik yang menjadi tujuan investasi para pelaku bisnis. Begitu pula dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah, tentunya dapat mensejahterakan masyarakat Indonesia. Tetapi kenyataan menunjukkan lain, kemiskinan, pengangguran, kesehatan dan pendidikan yang rendah, masih menjadi persoalan yang rumit untuk diselesaikan. Pada hal negara kita adalah negara kaya dari sisi sumber daya alam. Inilah yang disebut dengan anomali, dua kutub yang seharusnya berjalan beriringan tetapi kenyataanya berada pada kontra produktif. Pemimpin Abnormal Untuk mengatasi persoalan bangsa yang semakin akut, dibutuhkan sosok pemimpin yang dapat berpikir dan bekerja tidak lagi berada pada taraf normal. Situasi sekarang adalah situasi yang tidak normal lagi, pemimpin sekarang baik di legislatif, eksekutif, maupun yudikatif, sudah tidak mampu mengatasi persoalan-persoalan yang ada. Oleh karena itu, Indonesia saat ini membutuhkan pemimpin yang abnormal dalam artian untuk mengelola negara ini tidak dibutuhkan pemimpim-pemimpin standar, karena selama ini bangsa Indonesia mengalami kebuntuan yang luar biasa di segala sektor, baik ekonomi, politik, sosial, maupun pemerintahan. Persoalan-persoalan yang terjadi di Indonesia sudah tidak berada pada tataran rasionalitas lagi sehingga sulit dicerna dengan logika sehat. Jadi, butuh pemimpin yang berkarakter strong dimana kebijakan-kebijakannya di luar jangkaun nalar sehat. Oleh karena itu, Bong Chandra, seorang motivator muda menyatakan, dalam setiap individu itu diperlukan sebuah jiwa kepemimpinan yang berkarakter. Lakukanlah secara abnormal, berbeda dengan yang lainnya maka hasilnya pun akan luar biasa dan apabila melakukannya secara normal maka hasilnya pun akan normal dan biasa-biasa saja. Dalam konteks penegakan hukum, seperti yang dikemukakan Prof Dr Achmad Ali, dalam penanganan korupsi, satu-satunya cara adalah menetapkan bahaya korupsi sebagai keadaan yang abnormal. Ini juga ditangani dengan cara-cara abnormal dan bukan lagi dengan cara-cara normal seperti yang masih dilakukan pemerintah sekarang. Jadi penegak hukum yang bekerja menegakkan hukum juga harus berpikir abnormal. Pemimpin abnormal adalah pemimpin yang menyimpang dari arus utama (mainstream). Dalam ilmu statistik, suatu gejala dinyatakan abnormal apabila menyimpang dari mayoritas. Seorang pemimpin dikatakan abnormal apabila dalam kepemimpinannya menunjukkan karakteristik perilaku yang tidak lazim atau menyimpang secara signifikan dari rata-rata. Dengan demikian, seorang yang jenius sama-sama abnormalnya dengan seorang idiot, seorang yang jujur menjadi abnormal diantara komunitas orang yang tidak jujur. Oleh karena itu, pemimpin abnormal dalam tulisan ini tidak dipahami dalam konteks yang negatif tetapi dipahami secara positif. Jadi, pemimpin abnormal adalah pemimpin yang bertindak secara revolusioner yang melampaui kebiasaan umum. Contoh yang terekam dalam sejarah, Nabi Muhammad saw, pada awal risalah kenabiannya dianggap sebagai orang gila (majnun) oleh masyarakat Quraisy, karena risalah yang dibawa nabi bertentangan dengan keyakinan dan adat istiadat masyarakat setempat. Walapun mendapat tantangan luar biasa, tetapi pada akhirnya Nabi Muhammad tetap eksis pada garis perjuangannya. Oleh karena itu, apabila pemimpin-pemimpin saat ini berkuasa masih berfikir dan bertindak biasa-biasa saja (normal), maka persoalan bangsa ini tidak akan pernah terselesaikan.

Perihal BarruNews
Terima Kasih Komentarnya, Ayo Kirimkan Tulisan/ Opini Atau Kegiatan Ataukah Kabar Kejadian Di Sekitar anda Untuk Diberitakan di BarruNews. Silahkan Kirim ke email : jurnalbarru@gmail.com ATAU Join Us Di Facebook : Barru News. Jangan Lupa Sertakan Foto.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: